Monday, 21 June 2010

3 : Bangku Kosong

Setelah pelajaran Bahasa Indonesia oleh Bu Koes, dilanjutkan pelajaran matematika oleh Pak Agus. Ternyata bukan hanya aku saja yang merasa beliau mirip Mario Bros, melainkan seluruh kelas.

Begitu Pak Agus melangkah memasuki kelas, ada beberapa anak yang menggumamkan lagu latar game Mario Bros. Pak Agus langsung melotot mencari sumber suara. Tapi begitu dia melihat ke arah siswa-siswa, gumaman lagu itu langsung berhenti. Lalu anak-anak menggumamkan lagu itu kembali ketika Pak Agus berkonsentrasi pada papan tulis, dan kembali brehenti ketika Pak Agus membalikkan badannya. Tampaknya Pak Agus nggak pernah main nintendo Mario. Dia hanya menunjukkan tampang bingung saat para siswa menggumamkan lagu itu dan kemudian tertawa cekikikan.

Begitu pelajaran matematika selesai, bel istirahat langsung berbunyi. Ria langsung menarik tanganku dan mengajakku ke kantin. Mataku hijau melihat daftar menu yang ada di sana. Ada batagor, otak-otak, somay, gado-gado, ketoprak.... wahhh.... di Ambon sana makanan seperti ini sangat jarang. Padahal aku doyan banget makan batagor dan otak-otak. Kangen banget sama semua makanan yang wajib ada di kantin-kantin sekolah ini. Aku sampai bingung mau mesen apa.

”Na, lo serius mau makan itu semua??” Ria melotot melihat aku mencampur batagor, otak-otak, dan siomay dalam satu piring. Sementara di tanganku yang satu lagi, aku memegang sepiring ketoprak.

“Maklum, Ri... gue kalap. Heheheh... udah lama gue nggak makan beginian. Padahal ini kan jajanan favorit gue waktu SMP.”

“Ya, nggak segitunya juga kaliii...” Ria tertawa.

Setelah Ria memesan makanan, Ria mengajakku duduk. Kami duduk di meja sebelah luar. Di barisan meja sebelah dalam tampak diduduki oleh siswa-siswa yang bergaya modis. Nah, ini dia, nih, tipe-tipe pelajar level satu.

Kalau di SMA ada empat tingkatan sosial pelajar.

Nomor satu adalah pelajar level satu, atau biasa kita kenal dengan sebutan anak gaul, geng gaul, atau anak tongkrongan. Biasanya didominasi oleh pelajar-pelajar yang tajir dan/atau gayanya keren. Bisa aja sebenarnya nggak tajir, tapi maksa biar gayanya keren dengan memakai tas dan sepatu yang mahal, berdandan ala Cinta and the gank di film AAdC? (rambut panjang, kemeja ketat, rok mini, dan jangan lupa... kaus kaki panjang), serta rajin ikut pensi-pensi di sekolah lain. Orang-orang seperti ini biasanya tipe yang memakai uang sekolah buat modal gaul, dan rela nggak makan di kantin karena ingin menabung buat modal jalan-jalan pas week end. Semua itu mereka lakukan hanya agar di terima di golongan level satu.

Golongan dua adalah mereka yang suka ngintilin golongan pertama, dan bergaya nggak kalah heboh dengan anak-anak level satu. Tapi tetap saja, mereka nggak diajak kalo anak-anak level satu jalan-jalan, nonton pensi, atau ngadain pesta ulang tahun, kecuali kalo golongan pertama tadi lagi butuh tebengan.

Yang ketiga adalah tipe siswa yang menonjol karena prestasi, atau aktif di ekskul, tapi tetap nggak cukup keren untuk bergaul dengan dua golongan sebelumnya. Mereka hanya terkenal di kalangan level tiga dan dibawahnya. Anak level satu dan dua nggak pernah peduli sama mereka kecuali kalo lagi butuh contekan.

Anak-anak level empat, sudah pasti, rakyat jelata. Mereka-mereka yang nggak punya kelebihan apa-apa akan terdampar dengan sadisnya di golongan ini.

Tapi, berdasarkan sebuah novel yang pernah gue baca, ada lagi level yang lebih rendah dari level empat. Walaupun Sang Penulisnya membahas tingkatan sosial pada tingkat mahasiswa, tapi aku rasa ada juga anak-anak SMA yang tersisihkan menjadi level terakhir ini. Yaitu lumut. Alias, antara ada dan tiada. Keberadaannya ngga pernah dilihat dan diperhitungkan oleh orang lain.

Sebenarnya aku nggak setuju dengan pengklasifikasian seperti ini. Tapi kayaknya udah alami aja, ya, pergaulan orang-orang terbagi-bagi dalam level-level seperti itu. Kecuali buat aku. Aku selalu menyapa dan bergaul dengan siapa saja. Buatku, semua orang itu sama. Nggak ada bedanya.

Makanya aku malas sekali melihat suasana di kantin ini. Aku melihat, golongan level satu duduk bergerombol di barisan meja bagian dalam. Sementara siswa-siswa yang gayanya biasa saja otomatis berkumpul di meja bagian luar.

”Itu anak-anak kelas tiga, Na.” Ria ternyata memperhatikan aku menatap ke kelompok level satu, ” Di sini ada aturan tak tertulis kalo yang boleh duduk di dalem cuma anak kelas tiga dan anak kelas dua yang deket sama mereka. Sisanya duduk di luar sini. Kalo anak kelas satu, belum boleh makan di kantin. Mereka nggak boleh menginjakkan kaki di sini. Kalo ketahuan... bisa digencet habis-habisan.”

”Loh??? Kok, gitu, sih??? Kan hak asasi orang, donk, mau makan di mana aja. Kalo misalnya ada anak kelas satu yang kelaperan, trus kalo nggak makan saat itu juga bisa mati gara-gara maag... apa tetep nggak boleh mesen makanan di kantin juga??” tanyaku panas.

”Ya gitu, deh... gue pernah digencet waktu kelas satu. Gara-gara makan di kantin. Gue nggak peduli sama aturan sialan mereka. Gue juga nggak takut digencet sama mereka. Tapi temen-temen gue kena imbasnya gara-gara gue berani ngelawan mereka. Semua orang yang deket sama gue jadi ikut-ikutan dikerjain. Ya udah... akhirnya gue ngalah, deh. Gue nggak takut ribut ngelawan mereka. Tapi gue kasihan sama temen-temen gue yang lain.” Jelas Ria sambil mulai mengunyah baksonya.

Aku tertegun sesaat. Ternyata pelajar di Jakarta sekasar itu, ya? Di Ambon sana, nggak ada, tuh, istilah senioritas dan gencet-gencetan. Semua orang sama, mau tajir, mau miskin, mau anak pejabat, anak nelayan, semuanya akrab satu sama lain. Justru di Jakarta sini, yang notabene orang-orangnya lebih terpelajar, tapi para pelajarnya sikapnya kayak preman gitu. Yah, at least pelajar di sekolah gue ini.

“Guru-guru nggak ada yang negor, Ri?”

“Mana ada...emangnya mereka tahu? Nggak ada murid yang berani ngadu. Dulu katanya pernah ada yang ngadu gara-gara digencet senior. Si senior sampai di skors. Tapi imbasnya, si junior malah makin sering dikerjain. Dikunciin di kamar mandi, tasnya diisiin tumpahan jus mangga, mejanya di coret-coret, sampai diselipin rokok di tasnya trus ada yang ngaduin kalo si junior ngerokok. Dia kaget pas di tasnya ada rokok. Akhirnya dia kena skors, kemudian orangtuanya marahin dia habis-habisan. Akhirnya dia nggak tahan dan keluar dari sekolah ini.”

“ Dia nggak tahu siapa yang ngerjain dia, jadi dia nggak bisa ngadu ke pihak sekolah, soalnya dia nggak punya saksi dan bukti kalo dia dikerjain.”

“Gila... parah banget, Ri!!” seruku terkejut. Heran dengan tingkah remaja yang bisa segitu jahatnya. Emang ada, ya, orang sejahat itu?

”Ya... makanya... lo ikutin aja aturan-aturan yang ada di sekolah ini. Nanti gue kasi tau lagi, deh, apa yang nggak boleh dilanggar di sini.” dengan wajah santai Ria menceritakan semua hal tadi, ”O iya... salah satu yang nggak boleh lo langgar. Mestinya lo nggak duduk di bangku tadi.”

”Bangku apa?” kok, tiba-tiba dia ngomongin bangku, sih?

”Bangku yang lo dudukin di kelas, Monyong... Itu tempatnya Jali.”

”Bangku gue? Oh, ternyata udah ada yang duduk di situ? Jali siapa, Ri? Ini dia Si Jali-Jali?” aku nyengir sendiri mendengar pertanyaan spontanku. Sayangnya, bukannya ketawa, Ria malah menatapku malas ketika mendengar guyonanku, wajahnya seakan berkata “Najis, jayus banget lo!

“Bangku lo, tuh, punyanya si Jali. Dia emang jarang masuk, sering bolos. Sebenarnya dia kelas tiga, tapi gara-gara jarang masuk, dia akhirnya nggak naik kelas tahun lalu. Jadinya dia tetap di kelas dua, deh. Jali, tuh, termasuk gengnya mereka...” Ria menunjuk ke arah anak-anak level satu,” Bisa dibilang... dia, tuh, pentolan di sini... semua cowok takut sama dia, dan semua cewek caper (cari perhatian) pada ngejar-ngejar dia. Emang anaknya lumayan ganteng, tapi banyak yang mau jadi pacarnya cuma gara-gara pengen jadi pacar cowok paling ngetop se-sekolah ini.”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ria. Tapi jujur aja, aku nggak rela pindah dari kursi itu. Soalnya enak banget, deket jendela. Kalo jendelanya dibuka, angin semriwing-semriwing sejuk meniup, bikin udara jadi segar dan adem. Terus kalo bete sama papan tulis, tinggal melihat ke luar. Karena kelasku di lantai dua, dari jendela aku bisa melihat pemandangan lapangan dan taman sekolah yang rimbun.

”Jadi... untuk mencegah keributan kalo nanti misalnya Jali datang ke kelas... mendingan elo pindah dari kursi lo.” aku cuma manggut-manggut mendengar ultimatum Ria.

”Gue tahu dari muka lo kalo lo nggak bakal pindah.” Mata Ria memicing menatapku tajam,”Jangan nyengir lo, Na... muka lo penuh dosa. Gue tahu lo kepala batu. Pasti lo nggak mau ngalah, nggak mau nyerahin bangku itu.”

Aku langsung memeluk leher Ria dengan segenap cinta dan kasih, “Duh, Riaaa.... emang elo, deh, yang paling ngerti gueee..... ADAAOOWW!!!” pelukanku yang penuh cinta dan kasih itu dibalas oleh jitakan penuh kebencian dan kedengkian oleh Ria.

“Terserah lo, deh, Na... Yang penting gue udah ngingetin elo. Tapi beneran, deh... mendingan lo pindah tempat duduk aja.” Ujar Ria serius. Aku cuma nyengir kuda. Aku nggak takut sama si Jali ini. Lagian, masa, sih, dia nggak mau ngalah sama cewek? Apalagi ceweknya semanis aku. Hehehe...

No comments:

Post a Comment