Monday, 21 June 2010

2 : Doc Marteen, Senjata Ampuh (a)

SMU Harapan berlokasi tidak begitu jauh dari komplek perumahanku. SMU Harapan sendiri berdiri di dalam sebuah komplek perumahan, tidak jauh dari gerbang komplek tersebut. Papa menurunkanku pas di depan komplek, dari sana aku harus jalan kaki sedikit.

”Dah Papa...” aku melambaikan tangan mengiringi kepergian Papa, Papa membalas dengan melambaikan tangannya melalui kaca mobilnya. Aku membalikkan badan dan melihat sekeliling. Banyak cowok dan cewek lain yang memakai seragam yang sama denganku, mereka adalah teman-teman satu sekolahku. Kebanyakan naik angkutan umum seperti bis atau mikrolet dan turun di depan komplek. Dari sana semuanya berjalan kaki menuju gerbang sekolah. Ada sebagian juga yang membawa mobil. Banyak juga yang membawa mobil mewah. Huh, padahal mereka belum tentu punya SIM.

Tapi aku lebih bersemangat melihat anak-anak lain yang berjalan kaki, mereka semua adalah calon teman-teman baruku. Aku tak sabar ingin berkenalan dengan mereka! Aku juga tak sabar ingin bertemu dengan teman-temanku semasa SMP dahulu. Seperti Sarah dan Ria. Dulu kami bertiga bersahabat dekat, sering saling menginap di rumah yang lain.

Aku ingat Sarah itu sangat cantik, wajahnya kebule-bulean karena Ibunya asli dari Belanda. Dia yang paling modis di antara aku dan Ria. Apalagi dia juga tajir berat. Ayahnya adalah pengusaha ekspor impor, sementara Ibunya berbisnis jual beli permata dan berlian. Waktu SMP banyak sekali anak cowok yang naksir sama dia, tapi dia tidak pernah mengacuhkan cowok-cowok itu. Walau masih SMP, Sarah sudah pintar dandan. Ia selalu memakai lipgloss dan blush on kalau ke sekolah, sementara saat jalan-jalan ke mall ia sudah berani memakai lipstik yang berwarna peach atau pink muda.

Beda dengan Ria yang kutu buku. Ria itu murid teladan di sekolahku yang dulu. Walaupun tidak belajar, ia masih bisa mendapat nilai bagus. Aku saja sering meminta contekan dari dia kalau sedang ulangan, hehehe... Selain itu dia sangat cuek, dia tidak begitu peduli pada penampilannya dan hanya mau memakai pakaian yang dia suka. Kadang dia memakai kaus kakak laki-lakinya yang bergambar personel band Kiss, padahal jelas-jelas kebesaran di tubuhnya, atau sweater dengan motif garis-garis. Motif garis-garis adalah kesukaannya. Dia hampir selalu memakai baju sweater dengan motif garis-garis kemanapun ia pergi. Ditambah dengan earphone di telinganya dan buku-buku berat di tangannya. Berat isi ceritanya, maupun berat karena halamannya yang tebal.

Aku penasaran, sekarang mereka jadi seperti apa, ya?

Masih ada, sih, teman-temanku yang lain. Namun hanya mereka berdualah yang rumahnya dekat dengan SMU ini, kemungkinan besar mereka masuk ke SMU ini. SMU Harapan juga terbilang cukup populer karena sekolah ini tidak hanya menyeleksi calon pelajarnya melalui hasil UAN, mereka juga harus mengikuti tes saringan masuk yang cukup ketat. Selain itu, SMU Harapan juga dikenal sebagai sekolahnya anak gaul, mungkin karena letaknya yang strategis, dekat dengan mall, bioskop, dan spot-spot yang sering dijadikan tempat tongkrongan. Jadi, banyak juga anak-anak yang masuk SMU ini hanya karena dekat dengan mall dan tempat nongkrong yang seru.

Aku melihat ada warung rokok kecil di pertigaan sebelum sekolahku. Letaknya pas di belokan sehingga tidak terlihat dari gedung sekolah. Di sana tampak beberapa murid cowok dan cewek sedang nongkrong, anak sekolahku. Mereka keren-keren...

Astaga! Ada satu cowok yang sedang merokok! Dasar... nggak malu apa pagi-pagi sudah merokok?! Padahal dia pakai seragam! Aku, tuh, paling benci orang yang merokok. Asapnya kan ganggu banget. Perokok pasif memiliki resiko terkena gangguan paru-paru lebih besar daripada perokok aktif, loh. Makanya aku benci banget dekat-dekat orang merokok. Bukannya nggak mungkin kalau pertumbuhan tinggi badanku bisa terganggu gara-gara asap rokok.

Heran, deh. Berani banget cowok itu merokok di dekat sekolah... Nggak takut ketahuan guru apa?

”Heh! Apa lo lihat-lihat!” tiba-tiba si cowok itu menegurku dengan tajam. Aku tak sadar kalau dari tadi aku sudah menatapnya dengan tatapan tak suka. Berlagak budek, aku jalan terus menuju gerbang.

”Woi... anak SMP gedungnya di sebelah sana! Bukan di sini!”

ANAK SMP??????

Ngomong apa dia tadi??!!!

Mentang-mentang aku pendek, terus seenaknya aja dia ngatain aku anak SMP!!

Oke, ini udah keterlaluan... Aku terima saja kalau dikatain jelek, bawel, genit, atau apa saja. Asal jangan menghina tinggi badanku!!!

Aku segera membalikkan badanku dan menatap cowok itu. Hmm... dia lumayan cakep, kulitnya putih, rambutnya hitam kecoklatan karena terbakar matahari. Tapi yang paling keren dari dia, tuh, matanya yang tajam dan alis tebalnya. Kalau diperhatikan, ternyata matanya berwarna kecoklatan.

Duh!

Sadar, Na!! Dia adalah musuhmu!! Kok, malah merhatiin matanya yang bagus dan ga nahan itu! Eh, bukan... maksudku, wajahnya yang nyebelin!

Aku melangkah mendekati cowok itu, ia dan teman-temannya menatapku bingung. Aku mengumpulkan seluruh tenaga di kaki kananku, dan...

”AADDAAAOOOWWW!!!” sepatu Doc Marteen-ku mendarat dengan mulus di atas kakinya. Hehehe... makanya aku suka sepatu bootku ini, selain keren, sepatu ini juga bisa menjadi alat bela diri yang ampuh.

” Sialan!!” si cowok reseh itu berdiri, teman-temannya juga dengan sigap ikut berdiri dan memandangku dengan gusar.

”Emangnya enak!!” sambil berteriak begitu aku langsung berlari menuju gerbang sekolah. Ia tidak berani menyusul karena di depan gerbang sekolah ada dua orang guru pria yang sedang berdiri. Ia hanya bisa menatapku dengan kesal sambil bersungut-sungut. Hahaha.... Rasain, tuh!!!

No comments:

Post a Comment