Monday, 21 June 2010

2 : Doc Marteen, Senjata Ampuh (b)

Sesampainya di sekolah, aku mampir ke ruang guru. Oleh Pak Agus, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, aku mendapat pengarahan dam penjelasan tentang sekolah baru ini. Aku mati-matian menahan tawa saat berhadapan dengannya. Penampilannya yang gendut, pendek, dan berkumis lebat, sangat mirip sekali dengan Mario Bros. Itu loh, karakter game nintendo.

Berdasarkan penjelasan Pak Agus, SMU Harapan memiliki peraturan yang tidak terlalu ketat soal seragam, tidak ada aturan harus memakai sepatu hitam atau ikat pinggang (hore!). Namun mereka sangat ketat terhadap absen. Jika muridnya tidak masuk sekolah tanpa keterangan, sekolah akan langsung menghubungi orantua si murid. Jika absen lebih dari tiga hari tanpa kabar, maka akan dikenai sanksi skors. Dan seandainya absen sampai 30 persen dari kehadiran, maka tidak bisa naik kelas. Untung aku bukan tipe anak yang suka bolos. Jadi aku tidak masalah dengan semua aturan itu. Sisanya hanya peraturan standar seperti tidak boleh membawa senjata tajam, tidak boleh merokok, minum minuman keras, dan lain-lainnya yang pasti ada di sekolah manapun.

Lima menit setelah bel, aku baru di antar ke ruang kelas bersama wali kelasku yang baru, namanya Ibu Koes. Beliau berpenampilan sangat bersahaja sekaligus keibuan. Walau aku baru melihatnya hari ini, aku langsung tahu kalau Ia adalah guru yang sangat baik. Kulitnya agak gelap, namun badannya tinggi semampai, dan langkahnya begitu anggun. Kacamata berbingkai warna emas yang menghias wajahnya membuat beliau tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Aku rasa umurnya 35-36 tahun.

Selama perjalanan menuju ke kelas, beliau menanyakan suasana sekolahku yang terdahulu di Maluku. Ia tampak antuasias mendengar ceritaku tentang sekolah lamaku dan teman-temanku. Belum apa-apa aku sudah menyukai wali kelasku, beliau benar-benar pribadi yang ramah.

Sesampainya di kelas, aku melihat anak-anak kelas yang tadinya gaduh langsung duduk di mejanya begitu melihat Ibu Koes datang. Begitu masuk ke kelas, semua murid memandangku. Aku sedikit malu, jadi nggak pede sama tinggi badanku.

” Selamat pagi, anak-anak.” Bu Koes menyapa murid-murid. Aku berdiri salah tingkah di sampingnya.

”PAAGGIII, BUUUU....!!!”

”Siapa, tuh, Bu? Anaknya, ya?” aku mendengar suara celetukan dari arah belakang, disambut oleh tawa seisi kelas.

”Bukan.” Bu Koes tersenyum, ” Kenalkan ini teman baru kalian.”

”Wah, jadi dia anak SMA??? Saya kira anak SD!” terdengar suara lain menimpali. Aku mencari sumber suara tersebut. Seorang cowok berambut keriting dengan gaya slengean, hmm... awas kamu nanti! Beruntung di sini ada Bu Koes, kalau saja hanya ada kamu dan aku, aku bakal bikin rata semua jari kakimu.

” Ayo, Karina, perkenalkan diri kamu.” Bu Koes menyentuh bahuku lembut.

” Halo, namaku Karina Meifta... Mmmm... umurku 16 tahun, hobi baca buku...”

”Siapa yang nanyain hobi???”

”Bohong, tuh, 16 tahun!! Malsuin umur kayaknya!”

”HAHAHAHAHAHH...!!!!!”

Dua anak lagi yang jempol kakinya bakalan rata... Eh, si keriting monyong tadi nyeletuk lagi ternyata. Yang satu lagi kurus hitam. Awas kalian berdua...

”Daniel! Ronald!” Bu Koes berseru tajam kepada mereka berdua. Mereka hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. Ternyata nama mereka adalah Daniel dan Ronald... Entah yang mana Daniel, yang mana Ronald.

”Lanjutkan, Karina... Kamu pindahan dari sekolah mana?” suara Bu Koes melembut lagi.

”Eenngg... saya pindahan dari SMU 1 Wayame.”

”Wayame??? Itu sebelah mananya Zimbabwe, ya??” mereka berdua lagi... Benar-benar cari perkara!!

”Tepatnya di Propinsi Maluku, Indonesia bagian timur. Kalo masih nggak tau juga Maluku itu yang mana, sana aja lo balik ke bangku SD!!!” tukasku sengit.

Satu kelas tertawa mendengar balasanku. Aku jadi malu sendiri, aku nggak bermaksud membalas omongan mereka, setidaknya bukan di depan Bu Koes. Ternyata Ibu Koes malah sedang tersenyum menahan tawa, aku pikir ia akan melotot padaku. Sementara dua cowok biang rusuh tadi ikut tertawa juga mendengar jawabanku.

”Nah, sekarang... tempat dudukmu...” Bu Koes mencari-cari bangku kosong. Ada tiga, tapi semuanya di daerah belakang.

”Di sana boleh, Bu?” aku menunjuk bangku kosong yang berada tepat di sebelah jendela. Itu spot yang paling oke. Ibu Koes tampak berpikir sebentar sampai akhirnya kemudian dia mengangguk.

Segera aku berjalan menghampiri mejaku. Aku mendengar beberapa murid berbisik-bisik sambil menatapku. Apa dandananku ada yang aneh, ya? Ah... biarin aja, deh!

Di depan mejaku duduk seorang cewek dengan dandanan yang aneh. Ia memakai kalung ala tentara Amerika, dikalungkan di lehernya yang jenjang. Di tangan kirinya melingkar gelang-gelang berwarna hitam, mungkin jumlahnya 20-an, sementara di tangan kanannya dia memakai gelang perak besar. Rambutnya lurus panjang berwarna hitam legam, seperti model iklan shampo. Tampak goresan eye liner berwarna hitam pada garis matanya, senada dengan warna cat kuku yang ia gunakan.

Ghotik... keren banget ni cewek!

Aku pengen sekali-kali bergaya gothik seperti cewek ini. Tapi sayangnya, aku nggak pantes bergaya gothik. Soalnya wajahku nggak segarang cewek ini. Biarpun wajahnya tampak galak, cewek di depanku ini sebenarnya sangat cantik, apalagi dengan kulit putih gadingnya. Hmmm… kalo aku bertemu dia di kuburan, pasti aku akan mengira dia kuntilanak.

Si cewek ghotik menatap tajam ke arahku dengan tiba-tiba. Aku jadi kaget sendiri. Serem, euy. Salah tingkah, aku buru-buru melewati dia dan menaruh tasku di samping meja baruku. Aura di sekitar Si Ghotik berasa dingin. Jangan-jangan ni cewek kalo malam beneran ngeronda di kuburan.

Aku segera mengeluarkan buku tulis dan tempat pensil dari tasku. Bu Koes sudah meminta anak-anak mengeluarkan buku Bahasa Indonesia. Aku sudah membeli semua buku cetak yang diperlukan. Lima menit kemudian aku sudah berkonsentrasi pada bahasan kalimat majemuk setara dan bertingkat. Hmmm... ternyata tingkat pelajaran di Jakarta memang lebih sulit daripada di Maluku sana. Memang bahasannya sama-sama kalimat majemuk, namun contoh kalimat yang digunakan lebih ribet. Kadang sulit membedakan mana yang majemuk setara mana yang bertingkat. Duh, emang dasarnya aku ga pinter, sih... akhirnya aku malah sibuk menggambar-gambar buku cetakku.

”Pssst...!”

Kayaknya anak-anak yang lain malah sibuk bisik-bisikkan.

”Pssst...!” kali ini suara desissannya lebih kencang. Manggil siapa, sih, dia?

”Nanaaaa...”

Loh, ada yang manggil namaku, ya? Aku menolehkan kepalaku ke arah suara itu berasal.

”Nana, kan?” tanya si pemilik suara. Seorang cewek dengan rambut yang dipotong indie pendek ala anak brit pop. Itu, loh, yang poninya panjang menyamping dan rambut bagian belakangnya acak-acakkan kayak pantat ayam. Tapi... kayaknya aku familiar, deh, sama cewek ini...

”Na, ini gue... Ria!”

”RIAAA????” seruku terkejut.

”Karina? Ada apa?” tiba-tiba Bu Koes memanggilku dari depan kelas. Belum hilang rasa excited-ku karena mengetahui ternyata cewek tadi adalah Ria, teman sekolahku waktu SMP.

Aku spontan berdiri sambil berseru, ” Ada Ria, Bu!!”

Kata-kataku disambut oleh tawa anak-anak yang lain. Duh, aku maluuuuu....

”Iya, Ibu tahu di kelas ini ada siswi yang bernama Ria... Apa masih ada lagi informasi yang Ibu perlu tahu? Misalnya kenapa kamu tiba-tiba berteriak di kelas saat pelajaran sedang berlangsung?”

”Maaf, Bu... Udah cukup informasinya, kok.” aku kembali duduk di kursiku dengan wajah semerah kepiting rebus. Yang lainnya masih saja menertawakan tingkahku. Duh, mudah-mudahan kejadian ini tidak menimbulkan trauma, deh. Aku takut pertumbuhan tinggi badanku bisa terhambat karena mengalami rasa malu akut.

”Kalau begitu pelajarannya kita lanjutkan.” Ibu Koes tersenyum. Dia ngetawain aku juga, ya???

”Na, bego banget, sih, lo!” Ria kembali berbisik ke arahku begitu Bu Koes kembali konsentrasi mengajar. Ia duduk dua meja dari belakang di sebelahku, tepat di sebelah Si Cewek Ghotik.

”Ya ampun, Riaaa... gue kangen!!!” pekikku sambil berbisik.

“Kapan lo dateng ke Jakarta??? Kok, lo ga ngabarin gue?? Kirim surat, kek!”

Karena kami berpisah waktu SMP, kami belum memiliki handphone saat itu. Jadi ketika kami sudah memiliki handphone, kami saling tidak mengetahui nomor HP yang lain. Selama aku di Maluku, kami tidak pernah berkomunikasi. Bukannya sombong atau apa, tapi karena memang tidak ada media komunikasinya. Kalau melalui surat... jujur saja, aku malas menulis surat. Aku yakin Ria juga. Buktinya dia tidak pernah mengirimiku surat, kecuali dua kali, saat satu bulan pertama aku pindah. Aku juga membalasnya, satu kali, hehehe...

”Sori, sori... gue males, Ri. Niat gue tadinya mau main aja ke rumah lo. Gue baru nyampe minggu lalu.”

”Udah seminggu?? Dan lo ga ke rumah gue???? Seminggu itu lama, loh!” Ria mendelik kesal.

”Iya, soriiii.... ”

”Ya, udah... nanti aja kita ngobrolnya. Gue nggak mau ketinggalan pelajaran.” Ria kembali pada posisi duduknya semula, menghadap ke depan. Dasar orang pinter. Dari dulu nggak berubah, tetap siswa teladan. Tapi kemudian dia menengok lagi ke arahku, ”Gila, Na! Gue kangen banget ma lo!” bisiknya sambil tersenyum girang.

Gue juga, Ri! Gue nyaris takut kalo lo nggak sekolah di sini juga. Lebih nggak nyangka lagi ternyata kita sekelas. Bakalan seru, nih, hari-hariku di sini.

No comments:

Post a Comment